Thursday, May 21, 2009

PKBL

Sekalian ngapdet blog ah..udh lamaaa banget gak ke urus, mana sekarang tampilannya di dashooardnya kok gini ya, gak bisa ganti huruf, apa sy yg belet nih..

ceritanya 2 hari ini ged. sate disibukkan dengan demo buruh, tuntutan mereka adalah menolak MoU yang ditandatangan oleh Pemprov Jabar dengan PT. Jamsostek (Persero) perihal PKBL. PKBL sendiri adl Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, sebagai amanat dari Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 dan pelaksanaan dari Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-05/MBU/2007. Buruh menganggap dana yang disetorkan kepada PT. Jamsostek (Persero) merupakan bentuk "saham" mereka, sehingga apabila PT. Jamsostek akan menyalurkannya kepada pihak luar, harus sepengetahuan mereka selaku "pemegang saham".
Buat sy ini menarik, di satu sisi sebagai salah seorang yg ikut terlibat dalam pembuatan MoU, di lain pihak saat ini sama temen2 KHN lagi meneliti hal serupa, tepatnya corporate sosial responsibility secara luas. Pertemuan FGD pertama di Surabaya mengenai hal ini menjadi bekal dalam melihat persoalan di daerah. Bagaimana kita mendudukkan persoalan ini?

Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan PT. Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Persero) Nomor 560/04/otdaKSM dan Nomor MOU/03/022009 tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) yang ditandatangani pada tanggal 28 Februari 2009 menimbulkan persoalan terkait dengan keinginan sebagian buruh/pekerja untuk memberhentikan Program "Pemberdayaan Pemuda Desa Mandiri", karena dana program berasal dari PT. Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek). Kegiatan penandatanganan dilakukan di Gedung Sate pada akhir Februari 2009 dan berlanjut di Subang pada 20 April 2009.

Dari sisi PT. Jamsostek bahwa ia merupakan BUMN yang diharuskan menyisihkan dan menggunakan laba perseroan untuk keperluan pembinaan usaha kecil/koperasi dan pembinaan masyarakat sekitar BUMN berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. Sebagai BUMN, PT. Jamsostek pada dasarnya mempunyai dua tanggung jawab yaitu tanggung jawab kepada pemegang saham yang dititikberatkan pada kinerja keuangan dan pertambahan nilai (value creation) perusahaan yang digambarkan pada laporan keuangan perusahaan; dan tanggung jawab kepada masyarakat berupa bentuk kontribusi perusahaan pada pembangunan nasional sekaligus peningkatan kualitas hidup komunitas lokal dan masyarakat secara keseluruhan. Jadi selain mengejar keuntungan, adalah turut serta memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, BUMN melaksanakan program yang disebut dengan Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan yang disingkat menjadi PKBL.

Sementara dari sisi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yaitu bahwa salah satu sasaran misi Pertama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2008-2013 antara lain meningkatkan peran pemuda dalam berbagai aspek dan proses pembangunan serta meningkatnya kualitas dan perlindungan terhadap tenaga kerja.

Di Surabaya, Pemerintah Provinsinya mencanangkan bahwa penyisihan laba bersih perusahaan setelah dipotong pajak, hendaknya dikoordinasikan dengan pemerintah setempat, hal ini agar dalam pemberian program PKBL/CSR, dapat menjangkau daerah2 yang belum terjangkau dari pendanaan APBD. Resistensi mengemuka. Para pengusaha melihat bahwa tidak ada keharusan bagi perusahaan untuk mengkoordinasikan dengan pemerintah. Pada akhirnya bentuk2 yang dikemas dalam PKBL/CSR lebih kepada charity saja, atau bentuk lain dari promosi perusahaan. Misalnya pembuatan pagar untuk makam2 ustadz yang diagungkan, fasilitasi untuk istighasah, atau pemasangan hotspot bagi masyarakat di taman kota. Bagi perusahaan itu sudah bentuk PKBL/CSR. Jadi gak heran kalau di daerah nun jauh dekat perbatasan sana, masyarakatnya masih tetap belum berkecukupan meskipun ada perusahaan raksasa yang seharusnya dapat mengembangkan CSR sedemikian rupa, bukan dengan memberikan uang sekian rupiah untuk kepala suku yang kemudian bukan diberikan untuk kemakmuran, tp dibawa ke pelacuran sehingga penyebaran virus HIV/AIDS masih jadi sorotan. Ini tentu mengkhawatirkan.

Kembali lagi ke PT. Jamsostek. Dari awal pemasukan iuran, Jamsostek telah memisahkan mana yang hak buruh, hak usaha, bantuan atau apa lah namanya. Ada Dana JHT (tabungan peserta berupa jaminan hari tua) ada Non JHT terdiri dari jaminan kematian, kecelakaan, kesehatan yang mekanismenya seperti asuransi. Iuran yang masuk ke JHT tidak sepeser pun digunakan untuk kegiatan, operasional or bantuan, semuanya murni ke peserta Jamsostek (buruh). Artinya, Dana Program Bina Lingkungan yang dipakai dalam MoU ini bersumber dari penyisihan laba setelah pajak maksimal sebesar 2% (dua persen)dan hasil bunga deposito dan atau jasa giro dari dana Program BL. Ini yang tidak dipahami bersama. Ada ataupun tidak ada MoU, sebetulnya PT. Jamsostek sudah terkena kewajiban melakukan PKBL sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. MoU itu sebetulnya baru gentlemen agreement yang ada, karena sebagai perusahaan yang ada di wilayah Jawa Barat tentunya dia harus membina lingkungan..mengkreasi program bina lingkungannya dengan mensinergikan terhadap kebutuhan dari lingkungan Jawa Barat. Di dalam MoU juga disebutkan bahwa tindak lanjut yang lebih operasional akan disusun perjanjian kerjasama yang lebih teknis operasional. Inilah yang kemudian akan dikembangkan jamsostek dengan LPK di Kabupaten/Kota setelah sebelumnya diverifikasi dan validasi oleh Jamsostek.

Mengenai keinginan buruh untuk diikutsertakan dalam pengambilan keputusan peruntukan PKBL, rasanya juga kurang tepat. Pelaksanaan PKBL merupakan corporate action, dimana selain organ BUMN, pihak lain mana pun dilarang campur tangan dalam pengurusan BUMN. Apakah buruh merupakan pemegang saham? tampaknya tidak. Apakah kalau kita nabung ke bank, kita disebut sebagai pemegang saham bank? selama kewajiban jamsostek menyalurkan dananya untuk jaminan-jaminan yang menjadi hak buruh, maka ia pun dapat menyalurkan tanggung jawab sosial perusahaan kepada program2 yang dianggap bermanfaat bagi kepentingan tenaga kerja. Disinilah harus dibedakan antara kewajiban perusahaan, dan tanggung jawab sosial perusahaan.

Jadi, penekanannya, Jamsostek melaksanakan Program Bina Lingkungan melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN yaitu maksimum sebesar 2% dari laba bersih perusahaan, dan bukan dari dana yang didapat dari buruh melalui perusahaan kepada PT. Jamsostek. Bantuan Program Bina Lingkungan digunakan untuk tujuan memberikan manfaat kepada masyarakat di sekitar wilayah usaha BUMN. Jenis bantuan yang dapat diberikan dalam bentuk Bantuan Korban Bencana Alam, Bantuan Pendidikan dan Pelatihan Masyarakat, Bantuan Kesehatan Masyarakat, Bantuan Sarana dan Prasarana Umum, Bantuan Sarana Ibadah Masyarakat dan Bantuan Pelestarian Alam.

Tinggal sekarang yang harus diawasi adalah pelaksanaannya, apakah tepat sasaran, berkelanjutan, dan sesuai dengan prinsip2 good corporate governance yang diarahkan bagi BUMN juga. Jangan sampai tidak akuntable. Kalau Semen Gresik pernah menyebutkan bahwa filosofi memberi adalah tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tau. Bukan itu. Tangan kiri harus tau karena pengeluaran yang dilakukan perusahaan harus dapat diaudit, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Moga2 penyamaan persepsi ini dapat mudah dipahami, tidak dengan tuduhan politis bahwa dana jamsostek, dana keringat buruh, membiayai janji politik kepala daerah. Udah lah kita bicara sosial aja, gak ush politik2an...

Wallahualam..

Friday, January 02, 2009

Tuesday, September 30, 2008

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H



Assalamualaikum Wr Wb,
Untuk semua teman dan sahabat kami, mohon dimaafkan lahir dan batin ya, atas segala kekhilafan dan kesalahan dari lisan ataupun tulisan yang tidak kami sengaja menyinggung orang lain. Sucikan hati menyambut Idul Fitri 1 Syawal 1429 H..

Wassalam, Hilmanurulrayyaka

*thanks yaaaaa buat harsos yang udh fotoin kita di bukber milis outsiders SMAN 2 Bdg, maklum blum pnh foto2 bertiga lagi sejak kamera jatoh sama rayya :)

Friday, September 26, 2008

Friday, August 15, 2008

Apa Enaknya jadi Pejabat?

2 minggu belakangan ini, banyak yang terjadi seputar pilkada.

Ada calon bupati ponorogo yang "mendadak gila" karena apes gak menang dalam pilkada. Rumitnya, dia punya utang sampai 3 milyar demi ikut serta dalam eforia pilkada. Akhirnya, dia ditinggal istri karena tak tahan melihat si suami berkolor ria (bahkan telanjang) berputar-putar seantero wilayah rumahnya.

Ada primus yustisio yang mencalonkan diri jadi bupati subang. Dengan berbekal surat keterangan kepolisian yang menerangkan bahwa semua ijazahnya terbawa banjir, beliau nekat untuk mendaftar. Celakanya, KPUD bahkan tidak mempertanyakan ijazah S1. Katanya, untuk SD, SMP, SMA aja tersapu banjir, jadi tidak perlu lagi mempertanyakan ijazah S1. Sy malah pengen tanya sama Primus, kenapa gak diurusin dari dulu ke sekolah2nya...emang banjirnya kapan bang? apa karena menjadi artis tidak perlu pakai ijazah ya.

Ada Ki Gendeng Pamungkas yang mencalonkan diri di Bogor. Beliau calon dari independen. Tanpa partai. Siapa sih yang gak tau dia. Pernah dia bersama lima penghuni sebuah padepokan di Pacet, Mojokerto, melakukan ritual di sekitar Istana Bogor menjelang kedatangan George Walker Bush, pada 20 November 2006. Ki Gendeng Pamungkas menggelar ritual, katanya, untuk menyantet presiden Amerika Serikat itu. Seru kali ya kalo dia jadi Bupati. Gelaran mistis apalagi yang akan ditampilkan nanti kekekekek...

Seru ya. Demokrasi memungkinkan orang untuk menjadi siapa dan menjadi apa. Lumrah aja.

Berkaca dari kasus para Kepala Daerah yang menjalankan Radiogram untuk pengadaan alat berat berupa mobil pemadam kebakaran. Tampaknya buat para calon2 pejabat, perlu diwaspadai beberapa aturan pengadaan barang/jasa pemerintah, yang pada akhirnya berujung pada kriminalisasi perbuatan perdata dari para pejabat. Keppres 80/2003 berikut perubahahan2nnya terkadang memungkinkan orang untuk melakukan kesalahan administrasi yang berujung pada tuntutan pidana. Ada cerita di Ciamis, pada saat kejadian tsunami pangandaran. Pada waktu yang sangat mendesak, tidak dimungkinkan untuk dilakukan lelang. Keppres dan perubahannya pada saat itu memungkinkan untuk dilakukan penunjukkan langsung yang secara eksplisit menyebutkan Aceh pasca tsunami. Namun pada saat dianalogikan pada kasus ciamis, ternyata ada pemanggilan KPK terhadap pengadaan barang melalui penunjukan langsung. Jadi banyak hal2 lain yang ternyata memposisikan ketidakenakan menjadi pejabat sebetulnya. Dengan paraf yang dibubuhkan dalam keputusan2nya. Dengan kebijakan2 yang terkadang tidak normatif karena desakan eksternal. Jadi dengan segala tektek bengek itu, apa masih enak jadi pejabat?

Thursday, June 26, 2008

Perubahan

Sekarang ini jangan heran kalau tiba-tiba pergi makan siang ke kantin gedung sate yang panas dan pengap, ternyata ada Pak Wagub yang sedang makan sambil santai, pakai kaos setelah membuka kegiatan hari anti narkoba. Atau ketika sholat jamaah di basement, dan ternyata yang jadi imam sholatnya Pak Gubernur. Perubahan demi perubahan telah dilakukan. Sidak ke berbagai tempat seperti perpustakaan yang jarang dikunjungi, atau ke ruangan yang kecil tapi padat orang dan padat berkas, menjadi sering dilakukan. Pejabat bukanlah orang yang sulit dijamah rakyat. Tampaknya karena sadar betul bahwa konsekuensi pemilihan kepala daerah secara langsung artinya bahwa yang bersangkutan betul-betul dipilih berdasarkan kesukaan masyarakat terhadap sosok itu.
Kadang jadi lucu juga ya, kalau akhirnya seperti jumpa fans, karena banyak yang akhirnya foto bersama. Hm..malah denger2 bentar lagi Primus nyalonin jadi pejabat di Kabupaten Sukabumi..wahhh makin banyak aja wajah2 ganteng bersebaran diantara seragam krem nih..:p

Monday, June 09, 2008

Book Advisor

Sudah hampir sebulan ini saya jadi book advisor produknya mizan, khusus yang mizan dian semesta. Kalau searching di Google, pasti banyakkkkkkkkk banget yang udh punya penawaran khusus di blogspotnya masing2. Bermula dari beli Halo Balita, trus Ensiklopedia Bocah Muslim n terakhir I Love My Al-Qur'an. Terus terang terinspirasi sekali dengan Intan, temen SMP 5 dulu yang di rumahnya buku buat anak buanyakkkk banget..a home library with all kinds of books for children. Bermula dari pertemuan yang gak disengaja di pameran buku, akhirnya saya pikir ya kenapa gak diinformasikan juga buat yang lain. Selain emang saya gak bisa kalo nawarin yang lain. Pernah nyoba buat nawarin produk kecantikan, tapi secara saya jarang dandan, jadi gak dipercaya heheh..


Untuk Halo Balita ada 25
jilid + 1 jilid panduan untuk orang tua, Bonus 3 buah boneka (Sali, Shaliha
& Mio).
Isinya insya Allah manfaat: ada 9 jilid SELF HELP (Topik ini
melatih kebiasaan dan kemandirian anak dalam melakukan kegiatan sehari-hari), 11
jilid VALUE (Topik ini melatih anak agar mulai memahami dan menerapkan
nilai-nilai moral dasar), 5 jilid SPIRITUAL (Topik ini melatih anak melakukan
aktivitas yang merupakan pengembangan awal keyakinannya dalam kehidupan
beragama) & 1 jilid Panduan Orang Tua (Petunjuk penggunaan buku, informasi
penting tentang dunia balita & tips-tips praktis seputar keayah
bundaan).


Halo Balita saya bacain buat rayya hampir tiap hari menjelang tidur, paling cuman 5-10 menit, tergantung dari tingkat kebosanan dia. Ternyata valuenya ada juga. Kalau direbut maenannya, dia bilang "bun bun, aku anak cabarr.."(sabar maksudnya), trus kalau udh mandi dia bilang, "bun-bun, aku bica pake baju cendiri.." heheh..lucu banget..apalagi pas dia bilang, "bun, aku anak cantun yaaa" (santun). Selain buku2 binatang, koleksi Halo Balita memang jadi kesukaan dia. Trus boneka tangannya jadi bahan untuk ngobrol antara saya dengan rayya. Meskipun campur2 bahasanya, tapi dia kalau udh cerita sambil ngegerakin bonekanya jadi lucu banget.


Selain itu, saya mulai bacain ensiklopedia bocah muslim. Meskipun dia kadang belum "ngeh" tapi saya pikir buku gak ada batasan umur, sepanjang si anak ngedengerin, meskipun sambil loncat-loncat, paling gak dia tau bahwa kita sebagai ortunya punya kegiatan baca tiap hari..books are still central to the family's life..
Respon orang kadang macem2 ya. Pas saya kasih info tentang buku:
"hmm..mahal amat, hari gini mendingan beli apa kek.."
" ah, ngajarin anak mah nu biasa wae lah, sapertos nu kapungkur, dibacain oge sok teu resep."
"anak gw mah gak suka buku nih"
"buku yang tipis2 juga banyak"
Kadang suka gemes, terlebih yang saya tawarin itu secara finansial cukup lah. Cuman memang memberi pengertian bahwa rumah merupakan pusat belajar yang efektif untuk keluarga, atau buku merupakan investasi jangka panjang, jadi tantangan buat saya.
Tapi kalau di presentase, rasanya yang respon positif lebih banyak. Apalagi yang udh punya terbitan buku lain. Yaa gak jauh lah, saya udh punya terbitan tiga raksa yang harganya mahal banget, liat terbitan mizan jadi tertarik. Selain banyak value, juga nilai spiritualnya banyak.
Malah kalau di kantor jadinya sistem arisan. Di kantorku itu emang apa2 diarisanin. Selain panci, dan peralatan dapur lainnya, rata2 malah ambil sistem arisan untuk buku khususnya ensiklopedia bocah muslim dan i love my Al-Qur'an. Yaa gpp lah, yang penting info di bukunya bisa tersampaikan, rite!
Untuk detailnya, brosur dan contoh buku, bisa kirim e-mail ke:
nurul.diana@gmail.com or sms di 022-91999537