Thursday, June 23, 2005

Abidin bin Abubakar

Sekilas nama tersebut seperti nama seorang laki-laki. Kalau diartikan Abidin berarti:

People with this baby name are magnificent and vigorous. Luck is on their side, but what they apparently lack is diligence, concentration and assiduity. They tend to dissipate their energies, often lacking earnestness about everything. These people are lively, even-tempered, witty, often gifted, but their quick mind quite often combines with carelessness and laziness. They can be ambitious and power-loving. (http://names.yuly.ru)

Sementara kalau menggunakan bin berarti membawa nama bapaknya, Abubakar. Nama itu mengingatkan kita pada salah satu Khulafaur Rasyidin, Abubakar As-Shidiq. Abidin bin Abubakar inilah bila dikait-kaitkan ada hubungannya dengan Dana Abadi Umat yang sekarang lagi heboh-hebohnya, indikasi korupsi ibadah haji.

Salah satu anggota DPR, Marissa Haque memberikan bukti-bukti tentang ketidakbecusan pemerintah (baca: Departemen Agama-Depag) dalam hal penyelenggaraan haji melalui film dokumenternya. Maka, terungkaplah skandal korupsi haji yang kemudian menyeret petinggi-petinggi Depag, termasuk mantan-mantan Menterinya.

Sebetulnya ini bukanlah hal baru. Dari dulu investigasi tentang penyelenggaraan haji di Indonesia selalu menunjukkan potret buruk. Terakhir sekitar tahun 2000-an gw baca investigasi di Majalah Tempo tentang hal ini. Tapi gak ada tindak lanjutnya. Padahal dalam investigasi tersebut, laporan Tempo jelas-jelas menunjukkan betapa pahitnya jadi rakyat Indonesia. Selain ongkos haji yang cenderung naik tiap tahun, dari sisi fasilitas tidak pernah ada peningkatan malah cenderung menurun. Bukan hal baru bila soal transportasi, pemondokan jemaah yang tidak layak, dan lokasi wukuf yang jauh dari pemondokan menjadi masalah bagi mereka, rakyat Indonesia yang sedang menunaikan haji. Tapi atas nama “ladang amal,” mereka semua cenderung menerima, dan bersikap pasrah. Mungkin inilah cobaan yang diberikan Allah SWT ketika mereka menunaikan Rukun Islam ke-5. Phuihhhh….

Potret buruk inilah yang sekarang sedang diusut. Maftuh Basyuni, Menteri Agama sekarang bahkan, langsung mencopot 7 (tujuh) pejabat Departemen Agama yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan haji itu begitu film documenter diputar dihadapannya. Ujung-ujungnya Menteri terdahulu pun dimintai keterangan oleh Tastipikor (bukan KPK). Alhamdulillah, setidaknya awal yang baik setelah sekian lama tidak pernah diungkap. Inilah yang kemudian membawa kita ke Dana Abadi Umat. Ternyata sebanyak Rp 600milyar Dana Abadi Umat dan Rp 84milyar Dana Kesejahteraan Karyawan Depag diduga tidak dikelola semestinya. Weleh.

Dana Abadi Umat adalah dana yang diperoleh dari hasil efisiensi biaya penyelenggaraan ibadah haji dan dari sumber lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Keppres No. 22 Tahun 2001 Tentang Badan Pengelolaan Dana Abadi Umat). Pasal 2 dari Keppres yang sama menyatakan bahwa pengelolaan Dana Abadi Umat untuk kemaslahatan umat dilaksanakan dalam bidang, antara lain: 1. pendidikan dan dakwah; 2. kesehatan; 3. sosial; 4. ekonomi; 5. pembangunan sarana dan prasarana ibadah; dan 6. penyelenggaraan ibadah haji. Aturannya cukup bagus ya? Meskipun kurang jelas juga bidang2 itu penjabarannya apa saja. Praktiknya gimana? Nah disinilah si Abidin bin Abubakar itu berperan. Para Pejabat Negara dengan suatu alasan yang sangat agung yaitu menjadi Amirulhajj (pimpinan jemaah haji) seringkali mendapat jatah untuk berangkat dengan uang yang berasal dari Dana Abadi Umat. Bukan hanya si pejabat itu yang berangkat, bisa-bisa seluruh keluarga besarnya pun ikut. Yup, si Abidin bin Abubakar ini adalah Atas BIaya DINas dan Atas BUdi BAik golKAR :) gitu anekdotnya dulu. Jadi praktik2 semacam ini udah ada sejak dahulu kala. Nah saat ini bukannya berkurang, malah Abidin-abidin lain ikutan juga, meskipun Golkar sudah tidak powerful seperti jaman Orde Baru. Miris ya? Jadi tinggal ganti bin nya saja. Dana Abadi Umat yang harusnya dikelola dengan mendasarkan pada kemaslahatan umat, memperbaiki prasarana-sarana, bahkan mungkin bisa membuat penurunan ongkos haji untuk tahun berikutnya malah digunakan untuk mengongkosi para pejabat Negara untuk menunaikan ibadah haji.

Kontras ya dengan cerita misalnya seorang petani yang 10-20 tahun mengumpulkan uang dari hasil pertanian, setelah dia renta dan mempunyai uang yang cukup baru bisa membayar biaya ongkos haji, itupun plus jual ini itu sebelum berangkat. Ketika dia menunaikan ibadah tersebut bukan kemudahan yang dia peroleh, tapi sarana-prasarana yang tidak menunjang karena pemerintah tidak memfasilitasi kemudahan tersebut, ya pemondokannya, kateringnya, dll. Sementara di lain pihak, para pejabat bisa dengan bebas menggunakan fasilitas Negara, dengan ongkos yang bisa dikatakan berasal dari ”Kebijakan legal” dari Departemen Agama.

Kenapa disebut ”kebijakan legal?” Salah satu bos ku cerita, dulu waktu dia masih kerja di suatu instansi, pas minta cuti untuk naik haji, langsung ditawarkan,”kenapa gak pake biaya kantor aja, kita punya jatah kok dikasih Depag.” Bos ku nolak dengan alasan gak mau jadi Haji Abidin katanya :) tapi pas sampai disana sudah diberi jatah paket seperti air zam-zam, sejadah, dan oleh-oleh lainnya yang sudah dibungkus rapih dan siap disebarkan. Uang pengadaan itu dari mana? Dia pun gak tau. Dari tahun ke tahun “kebijakan legal” itu terus berlangsung. Audit BPKP kyknya gak pernah nyentuh ke hal-hal itu, baru kali ini aja staf BPKP bilang, “saking ruwetnya keuangan di Depag, sampai2 mau ngauditnya susah banget.”

Sungguh tidak enak ya tinggal di Negara yang mayoritas muslim, tapi punya manajemen yang sangat buruk dalam melayani warga negaranya ketika menunaikan ibadah haji. Untuk orang-orang yang mampu, ONH Plus mungkin bisa dijadikan alternatif, dengan fasilitas yang memadai, seseorang bisa khusyu’ beribadah. Tapi seberapa persen sih dari jumlah penduduk kita yang lain, yang lebih mengandalkan peran pemerintah untuk menangani penyelenggaraan ibadah haji. Moga-moga si Abidin-abidin ini bisa diusut tuntas sehingga ke depannya gak memberatkan rakyat lagi. Amin..
Btw, yang menunaikan ibadah haji dengan Abidin begini diterima tidak ya amal ibadahnya? walahu'alam.. kita kembalikan lagi pada Allah SWT. :)

3 Comments:

Anonymous fisto said...

kayaknya emang susah ngilangin budaya kayak gini ya...bahkan di perusahaan2 swasta, multinasional, seringkali praktek kayak gini masih dianggap lumrah sampe tingkat tertentu...
yang namanya makan siang abidin, makan malam abidin, liburan abidin, karaokean abidin...wah buanyaak deh...

12:56 PM  
Anonymous Anonymous said...

Saya berpendapat kalo Haji Abidin itu memang bermanfaat seperti Ustadz pembimbing, Paramedis (dokter, perawat, dll), dll saya setuju aja. Karena keberadaan mereka memang dibutuhkan. Tapi kalo Haji-haji Abidin ini adalah orang kaya (pejabat) yang korup dan kikir maka saya yakin kepergiannya ke tanah suci tidak akan membuat mereka ke surga tapi bakal bisa menjerumuskan mereka ke neraka. Karena itu, kepada kelompok ini saya menghimbau untuk bertobat dan mengembalikan dana yang mereka gunakan kepada ummat yang lebih membutuhkan.

Saya kenal seorang Asisten Daerah (Asisten Walikota di salah satu kota di Jawa Barat) yang pergi haji sekitar tahun 1995-1996 dengan biaya dinas. Sangat mengejutkan buat saya kalau dia baru pergi haji saat itu padahal kekayaan dia sudah lebih dari cukup untuk pergi haji ONH plus untuk dia dan keluarganya, tapi dia baru pergi haji saat itu. Itupun yang saya tahu dia 'mengemis' dan menjegal rekan dia yang seharusnya pergi supaya jadi ketua rombongan jamaah haji dari kota itu agar bisa jadi Haji Abidin (kalo saya sering pake istilah Haji NurDin = Haji Nurut Dinas).

Mudah-mudahan mau bertobat dan mengembalikan dana ummat yang dia gunakan. Karena saya yakin ummat tidak membutuhkan ketua rombongan seperti dia yang gak ngerti tata cara haji dan belum pernah pergi haji sebelumnya.

10:25 AM  
Blogger nurul said...

Fisto:
yup, susah ngilangin krn udh jadi budaya? kl biaya dinasnya bisa dipertanggungjawabkan untuk kegiatan yang udh fix sih gak masalah toh sudah bagian dari tugasnya, tp ya itu, seringnya gak ada di job-desc nya..:) mungkin nge-blog kyk gini jg gw pake abidin? heheh..

anonymous:
rite, saya setuju tuh, bila bermanfaat bagi umat maka gak masalah seperti yang udh disebutkan. Yang ironis, dia tahu betul sholat, ngaji, tunai zakat, tp terhadap praktik2 gini malah ikut2n, aji mumpung lah..takut jg kita kepeleset jadi begini ya :)

6:13 PM  

Post a Comment

<< Home

Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com